Menyambut Lebaran di Desa Pagur: Serunya Tradisi Pekan Bante, Berburu Daging hingga Mangalomang

Haloo Sobat Marhatahata,,,

Suasana menjelang Idul Fitri di kampung halaman selalu memiliki daya tarik tersendiri yang tak bisa digantikan oleh kemeriahan kota besar. Bagi masyarakat Desa Pagur, momen paling dinanti sebelum gema takbir berkumandang adalah Pekan Bante.

Pekan Bante bukan sekadar hari pasar biasa; ini adalah simbol semangat kebersamaan dan suka cita warga dalam menyambut hari kemenangan. Mari kita intip bagaimana keseruan tradisi ini berlangsung!

H-1 Lebaran: Puncaknya Keramaian di Desa Pagur

Pekan Bante dilaksanakan tepat pada H-1 Lebaran. Di hari ini, suasana desa menjadi sangat hidup. Sejak subuh hingga siang hari, warga tumpah ruah untuk mempersiapkan hidangan terbaik yang akan disajikan di meja makan saat Lebaran nanti.

Tradisi “Bante” Kerbau: Perburuan Daging Segar

Salah satu ikon dari Pekan Bante adalah aktivitas jual beli daging. Istilah “Bante” sendiri merujuk pada penyembelihan hewan. Di Desa Pagur, biasanya ada penyembelihan kerbau secara lokal. Tidak tanggung-tanggung, biasanya ada sekitar 3 ekor kerbau yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan warga desa.

Aktivitas ini biasanya dimulai sejak malam hari sebelum Pekan Bante. Namun, bagi warga yang ingin variasi lain atau mencari suasana berbeda, banyak juga yang memilih pergi ke Pasar Panyabungan tepat di hari Pekan Bante untuk berburu daging.

Daging-daging segar ini nantinya akan diolah menjadi dua menu wajib:

  1. Rendang: Masakan primadona yang aromanya akan tercium dari setiap dapur rumah warga.
  2. Soup: Hidangan segar yang biasanya dinikmati saat berbuka puasa terakhir maupun saat hari Lebaran tiba.

Mangalomang: Aroma Wangi Bambu di Sepanjang Desa

Tak lengkap rasanya Lebaran di Mandailing tanpa Mangalomang (memasak lemang). Tradisi ini dilakukan bertepatan dengan hari Pekan Bante.

Jika kalian berkunjung ke Desa Pagur saat itu, kalian akan melihat kepulan asap wangi dari pembakaran bambu di halaman rumah warga. Ada dua jenis yang biasanya dimasak:

  • Lemang Batang: Beras ketan yang dimasak di dalam bambu dengan santan gurih.
  • Alame Batang: Dodol khas Mandailing yang juga dimasak di dalam batang bambu, memberikan cita rasa manis yang unik dan aroma yang khas.

Memasak lemang bukan hanya soal rasa, tapi soal kesabaran dan kerja sama keluarga saat menjaga api agar matangnya merata.

Penutup: Tradisi yang Menjaga Silaturahmi

Pekan Bante di Desa Pagur lebih dari sekadar urusan belanja dapur. Di sinilah warga saling bertegur sapa, menanyakan kabar, dan saling berbagi suka cita setelah sebulan penuh berpuasa. Aroma rendang, soup, dan wanginya lemang yang terbakar menjadi penanda bahwa hari kemenangan sudah di depan mata.

Bagaimana dengan tradisi di desa kalian? Apakah seramai di Desa Pagur? Tulis di kolom komentar ya!

Leave a Comment