Kumpulan Puisi Bahrum Rangkuti

Haloo Sobat Marhatahata,,,

Insaf

Kita bersama dari pulau ke pulau

melayari lautan hijau

di bawah langit kemilau

mengembara dari dunia ke dunia

dari sufi Karim i Jilati

ke filsuf Kant, manusia pestulat

terus tiba di Iqbal:

Insan kaca Ilahi.

Tetapi apa ini?

madu atau tomat?

segala rasa dan cita memedat

apa hanya fatamorgana?

dan akhirnya ini juga:

kita akan terdampar ke pantai jiwa:

remuk dan luka!

Kau takut

api dan maut?

jangan turut

aku ini pengembara padang pasir

berjalan dari mata air ke mata air!

Kembali

Rabbi, bawa daku ke jalan lurus.

Aku sudah letih dari cinta dunia, menghamba rasa

dari senja ke senja.

Kusangka bisa kulari dari pada Mu, tetap ke mana

Kupergi, di situ juga Kau menanti.

Hanya dulu sudi Kau menegur daku, tapi kini Kau

biarkan daku berbuat sekehendak hati

Aku bergelimang dosa dan noda, Tuhan

Kalau tidak dengan bantuan Mu, dapatkah aku kembali,

Syaitan nafsu ‘lah hangus terbakar dalam diriku,

bolehkah kuhampiri Kau lagi bagai dulu?

Pantja Raja, No. 24 Th. 1, 1946

Sakura

Dia datang. Berbaju tebal abu abu

di pinggangnya samurai

penyebar kuasa dan sangsai

matanya sipit:

rahang nafsu dan maut

manusia dan hewan takut

Awas! Baiklah prihatin

nanti: Bagero genzyumin!

Ini saudara tua

pelambang Dai Toa

duta Tenno Heika:

Dia berbadan nyata.

Mari adikku alit

Jok kakak jepit

dalam cinta Ma’mur bersama

kami bangsa Yamato

Keturunan Amaterasu

berani berkorban dan jibaku

disegala tempat dan cabo

inilah dia jalan kado

Pekik di malam gelita

Dia mati Malaria dan raja singa!!!

Pantja Raja, No. 24 Th. 1, 1946

Tugu Kenangan

Badan rapuh ini

sesudah berbilang masa

mendunia maya

mengambai hidup dan mati

jiwa tegak menjulang,

akhirnya pulang kembali

perlahan dan tenang,

senyum melingkari bibir kaku

dan tiada lagi derita membeku

habis ingin dan nafsu

Aku tinggal bisu

LAILA

Telaah tentang Arab watak romantiknya

Suatu malam bulan kemilau dan angin mendesau

kudengar pelagu gambus; gambus mengimbau kekasih Laila

dan asyik menepis sepoi dari lembah Ed Dachuli

kependakian pasir Haumal:

LAILA, LAILAA, LAILAAA….

Dan laila termenung dalam tenda sunyi

di bawah bintang kemintang Zuhal

sedang langit melengkung ke segala ke jauhan

dan kilau lunak dari bintang dan bulan

menyatu dengan getaran gambus dan tambur:

LAILA, LAILAA, LAILAAA….

Pantja Raja, No… Th. I, 1946

Ini suara padang pasir

bintang dan bulan pada tahu

Mari kita meyingkir

Mari kita menyingkir

ke lembah Ed Dachuli dan Haumal

antara dua bukit pasir

di Rubaa al Chaali

TA’AALLI, TA’AAALLI, TA’AAAALLII.

dan jangan bikin hatiku sebal

dan jangan bikin hatiku sebal

Laila ini anggur cukup kental

bikin kita gila pitam

bulan badar waktu malam

TA’AALLI, TA’AAAALLI, TA’AAAAALLII….

Ana gila sama kau

dan matamu lembut mendesau

panggilan air matamu

amboi, manisku, kau hidupku

kau matiku, dan senyummu harum

menepis dalam malam kemilau bulan terang

kembang, bintang dan sayang

dan hatiku Laila menitis

di bawah bintang Zuhal

di lembah Ed Dachuli dan Haumal

Langit merdu, Langit merdu

Kita dendang ini lagu, Laila

Kita kembang ini kalbu, Laila

lagu hidup dan lagu cinta

dari lembah ke bintang Zuhal

Dan ini anggur, Laila, kental

cinta kita pedat tebal

Ah, senyummu, Laila

bikin ana jadi gila

bikin ana jadi gila

HAYAATT, HAYAATT, HAYAAATT

B. Rangkoeti

Gaza, April 1948

PASAR IKAN

Senja sepoi melingkung Pasar Ikan, sinar lembut

membuai tebaran kolam. Di sepanjang pantai dan pematang

lena mengapung jung, tongkang, sekonar dan lancang

kuning, letih pulang dari laut.

Dan di ujung pandang mata kemilau langit Tanjung

di mana kapal dan gudang berpaut

murni alam antero, pudar melengkung

ke gaib langit dan laut.

Dan nun di kapal Mangkasar

anak laut berjanji bermain gitar

lagu langit dan laut: pantai Paso, malam pualam.

Kumandang mendengung, hilang mengalum dalam getar

dan aku mengayuh biduk: terbang burung camar

dipeluk langit. Dan mentari mulai terbenam….

Gema, Juli 1948

PESAN

kepada saudara bekas tuna karya,

berangkat keperkebunan kelapa sawit

dan teh si SUMUT

Mereka berangkat dengan nama Tuhan

sudah bertahun-tahun hidup gelandangan

di bawah kolong jembatan

mengutip sisa makanan di tong tong toko Cina

padahal mereka dan konco-konconya berpelukan

meraih cinta di rumah peristirahan

berjejal-jejal mereka naik tangga kapal

tak ada ranjang untuk tidur nikmat

tak ada lauk nan dimakan sadap

namun wajah mereka bercahaya, girang

menuju harapan baru:

sebidang tanah dan anak anak lahir

dalam rumah punya atap

Dan dia pengantar sampai pelabuhan

mendoa: “Muda mudahan malaikat

menjaga kalian. Langit menuntun langkahmu

di tanah perkebunan. Bersyukur pada Tuhan

Capai maqamaan mahmudan

keluhuran cita duniawiyah dan seberang makam

Reguklah kedalaman malam

seraya mencari kehampiran pada Nya

HAJJAA ‘ALASH SHALAAH

HAJJAA ‘ALAL FALAAH

Hidupkanlah kembali nyala tauhid hakiki

aruskan pengaruhnya pada amal dan hati

(bukan sebagai sikap orang yang percaya

pada Tuhan Maha Esa semata; hatinya penuh noda

ia tergila-gila pada dunia)

tapi, jadilah penghayati wahyu Ilahi

sampai ke tulang sumsum

di tanah perkebunan hijau

di kampung dan desa

di lembah bernyanyi dan harum

di pantai melandai

di pulau-pulau jauh menghimbau

di kota kota besar ramai menggeliting

di rumah tangga dan wilayah sekitar

Dan usahakanlah sinar

Laa ilaaha illa’llaah

bermukim dalam kalbu kita

agar sirna pemujaan pada makhluk bikinana insan.

Selagi syirik tersembunyi dan nafsu angkara

bertakhta dalam kalbu

jauhlah kita dari manisfeastasi Ilahi.

Jagalah hak saudara dan kenalan

teman sepekerjaan dan kenalan

dan jika hendak mencapai martabat tinggi

jauhilah sifat munafik, cemburu, dan permusuhan

tumbuhkanlah cinta dan kasih sayang

di antara kita sekalian. Jadikanlah contoh teladan

bagi yang bersalah dan menderita:

bagaimana menghidupkan cinta dan belas kasihan.

Dan janganlah kita membuang-buang waktu dan harta

Kesemuanya ini ialah amanat Ilahi

untuk zaman sekarang

Sebaiknya janganlah kita menginginkan keruntuhan

kawan dan berhentilah kita menyiar nyiarkan kesalahan

orang lain. Mari kita perbaiki diri kita

masing masing dalam hidup kebaktian.

Mari kita ulurkan tangan bagi yang merana

Tuhan Maha Melihat dan Waspada!

HAJJAA ‘ALASH SHALAAH

HAJJAA ‘ALAL FALAAH !

Hidupkan kembali ukhuwah Islamiyah

di tanah dan air Indonesia

itu harta pusaka Muhammad yang tak ternilai

Kini hilang ditelan zaman dan bantingan firqah

Ada di lembah lembah dan gunungnya menzarah

darah merah gemuruh dalam urat nadinya,

akalnya cerdas, bersikap hidup ligat dan kenyal

Sayang, wahyu Ilahi belum menjadi sumber hayatnya

dan masih jauh akan terhina qiblah rohaniah yang satu

untuk perangsang keadilan dan kemakmuran

membuahkan nilai nilai kekinian dan bakal datang

kehidupan duniawiah ini benar sungguh, saudara!

Di zaman lalu berbagai macam jalan

ditempuh insan untuk menghampiri Tuhan

namun tiap tiap masa menjulangkan hikmah rahasia

amal terbesar. Bacalah Qurannul Karim

mengandung millat Isa, Muhammad dan Ibrahim

tiga serangkai pembina masyarakat Ilahi

dan menjadi sempurna pada Al Amien Al Musthafaa.

Teranglah Surah Al Balad mengalunkan ukara:

wa maa adraka ma’laqabah

faqqu raqabah

aw ith’aamun fie yaumin dzi masghabah

yatieman dzaa maqrabah

aw miskienan dzaa matrabah

tsumma kaana mina’lladziena aamanuu

wa tawaasaw bishabri wa tawaasaw bil marhamah

ulaaika ashhaabu’lmainamanah.

Apakah sebenarnya yang membuat engkau tahu

jalan meningkat tinggi itu?

ialah memerdekakan budak sahaya

(meninggalkan hidup tertindas)

atau memberi makan di hari kelaparan

kepada anak piatu yang dekat (terlunta-lunta)

atau orang-orang miskin letak terhampar di abu

(Tetapi kesemua ini belumlah cukup

membina masyarakat sejahtera)

kar’na memerlukan cita-cita luhur dan benar

dengan azas-azas wajar

bersama terus menerus menepati budi pekerti

dan mengajarkan kebajikan.

Barulah mereka yang melaksanakannya

Masuk Tangan Kanan Ilahi

HAJJAA ‘ALASH SHALAAH

HAJJAA ‘ALAL FALAAH

Dan ingatlah, dalam agama kita

kebesaran seorang letaknya dalam taqwa kebaktian

menjelmakan diri, keluarga dan bangsa

dari bencana jasmani dan rohaniah.

Mari resapi lagi kesederhanaan Umar r.a.

dan kebesaran jiwa Abu Bakar Ashshiddieq

meski jauh dari kemewahan berlimpah limpah

rohani mereka merangkum kekayaan tak ternilai

Sang Muslim dalam mengendalikan pemerintahan

Amat ugahari hidup dan s’leranya

hanya ilmu dan Quran diasyikinya

dan cintanya mengembang melepaskan insan

dari belenggu-belenggu kemiskinan dan pendewaan makhluk Wal aachir,

marilah tetap kita pelihara hubungan

dengan Tuhan subhaanahu wa ta’aala

ketuklah gerbang-Nya dalam salat tahajud tengah

malam. Cucurkan air mata bagi ampunan Nya

agar turun menjelamalah ia dalam tajali Ilahiyah

dan merasakan NUR-NYA pada wujud kita ……

Gema Islam, No. 85 Th. 5, 1966

DUNIA BARU

Dalam kamar Basjir kulaihat penuh gambar

warna warni. Merah, kuning dan hijau bersihantaman

Muda mudi menari kelojotan. Mereka tertawa lebar

Tergantung megah fotonya sendiri dengan pakaian

Navy Blue. Aku berdiri di Point Loma, San Diego

Memantul di sebelah kiri tanda corps Chaplain Amerika

Injil dan salib berlekuk-lekuk. Lalu melintang bendera

dwi warna dari ujung keujung. Di bawahnya dipo

Negoro

Aku bertanya: – Apa yang kau buat ini, nak?

Mau keserasian bentuk rupanya. Dalam porak

poranda pikiran. Mana tulisan-tulisan Quran?

Ia menjawab mengangkat dagu: – Aku merombak

dunia!

Menampil padaku firman-Nya – Ia memisah pisah

dan memadatkan lagi. Dan terciptalah alam semesta.

Horison, No. 12 Th. VI, 1971

Leave a Comment