Kumpulan Puisi Bahrum Rangkuti

Haloo Sobat Marhatahata,,,

TUHANKU…

Waktu malam. Dalam kesepian ta’jub Kudengar irama ka-Mu: ,,Aku ada.” Diam termenung Tiada bergerak Aku Hilang aku oleh Belaian bisikmu Lunak merdu Hanyut aku Tuhanku. Dalam lautan kasih Mu.

Tuhan tiada kasih Melainkan Kaulah ‘nyinari batinku gelisah Menderita rintih selama ini. Hampir remuk jiwaku Tapi kau datang. Datang.

Ta’ dapat kusifatkan Suka hatiku. Kasih. Betapa dapat Jika ia hanyut ta’jauh? Tuhan, bawalah aku Meninggi langit rohani Tempat geta Mu damai Biar segar jiwa jang rindu Berisi batin yang kosong.

B. Rangkoeti

Langit dan Bumi Baru

Rebut benteng dalam kerajaan cinta, bina zaman baru di sinar mentari, di cahaya malam …..!

Rebut bulan bintang di gurun pasir, dipegunungan!

Arung gelora lautan dunia, bagai leluhur menempuh ombak dan karang!

Tumbuhan pohon tanah air dengan tenaga, korban dan darah!

Jadilah prajurit di dusun, di kota, di lautan, di awan, di alam segala, dalam diri mu!

Dan jika jiwa mu mengerti alam, hidupkan Tuhan dalam hatimu, dalam masyarakat khalajak ramai, agar langit membujuk bumi di caja sinar, di langit biru …..!

Pandji Poestaka No. 15 Th. XXII, 1 Agustus 1604 1944

Akibat

Aku masuk penjara komunis atau gerakan rahasia bersama Anwar dan Ramli kami banyak menahan gentar di sekitar darah dan mati dan ini tempat tidur batu mengisap napas Bilik sempit dan panas

di mana kami? kami di mana?

di negeri aniaya dan siksa kutu busuk dan malaria

apa ini disuruh badanku? derita dan luka

hanya sepotong langit biru meringis kami dari lobang kecil besi

Pantja Raja, No. 24, Th. 1946

DO’A MAKAM

Di lindung bayang gantung dahan baringan dinda hening tenang bunga kemboja di tanah abang bayu senja sepoi perlahan

pandangan pilu ‘nembusi dalam basah gemetar hamparan melati sura Qur’an di dekat pualam kian seni sendu di hati

perlahan hilang warna hijau dunia dan langit mengudus suci ? kenang melayang ke alam rohani

tenang malam membelai jiwa mengalun suara samar sepoi dari bintang jauh kemilau

Pantja Raja, 1946

HIDUPKU

Orang berkata, aku kapal sedang karam oleh beban membenam buritan, Katakanlah demikian, kasih aku tiada akan marah

Hidupku bukan permainan latihan di lautan permai mengalun damai meriam mendentam tiada peluru kapal melancar selalu bermimpi

tetapi: hidupku: kancah api menjulang tinggi gelora lautan menyala mendidih awan berdarah disiksa meriam

dalam perjuangan mati matian berani daku membawa kau ‘nuju pelabuhan damai melepas lelah, dan berjuang lagi …!

Pantja Raja, No. 17 Th. I, 15 Juli 1946

Sumber:

BAHRUM RANGKUTI DAN PANDANGAN DUNIANYA / ANITA K. RUSTAPA

Leave a Comment