Haloo Sobat Marhatahata,,,
Hampir setiap hari, layar gawai dan televisi kita disuguhi berita yang sama, hanya wajah dan nominalnya saja yang berganti: kasus korupsi. Mulai dari tingkat pusat hingga daerah, dari sektor komoditas alam hingga dana bantuan sosial, korupsi tampaknya masih menjadi benalu yang sulit sekali dicabut dari akar negeri ini.
Di sela-sela membaca berita tersebut, sering kali terbersit sebuah pertanyaan retoris di kepala saya: Bukankah generasi yang sekarang sedang memimpin dan memegang kendali kebijakan adalah mereka yang tumbuh di masa-masa sulit? Mereka adalah saksi hidup—bahkan mungkin pelaku sejarah—yang melewati masa transisi politik yang berdarah-darah, krisis moneter yang mencekik, dan keterbatasan fasilitas masa lalu. Logikanya, seseorang yang pernah merasakan pahitnya kesulitan akan memiliki empati yang lebih besar dan bertindak lebih bijaksana saat diberi amanah untuk memimpin. Namun, mengapa realitasnya justru berbanding terbalik? Mengapa romantisasi masa lalu tidak otomatis melahirkan kebijakan yang bersih?
Mari kita bedah ironi ini secara mendalam.
1. Perangkap “Mentalitas Kelangkaan” (Scarcity Mindset)
Secara psikologis, tumbuh di era yang penuh keterbatasan dan ketidakpastian bisa membentuk apa yang disebut dengan scarcity mindset atau mentalitas kelangkaan. Ketika seseorang terbiasa hidup dalam situasi di mana sumber daya itu terbatas dan harus diperebutkan dengan sengit, alam bawah sadarnya akan terus merasa “kurang”.
Saat roda nasib berputar dan mereka berhasil menduduki puncak kekuasaan yang bergelimang fasilitas serta akses dana, mentalitas ini bukannya hilang, melainkan termutasi. Alih-alih berpikir untuk mendistribusikan kesejahteraan secara adil, muncul dorongan kompensatoris: “Dulu saya sudah susah setengah mati, sekarang saatnya saya mengamankan tujuh turunan agar tidak kembali ke masa itu.” Penderitaan masa lalu akhirnya dijadikan validasi terselubung untuk menimbun materi secara tidak sah.
2. Normalisasi Korupsi Sebagai “Biaya Sistem”
Kita tidak bisa hanya menyalahkan moralitas individu tanpa melihat bagaimana sistem bekerja. Generasi pemimpin hari ini masuk ke dalam lingkaran kekuasaan yang ongkos politiknya luar biasa mahal. Untuk menjadi pejabat atau pengambil kebijakan, investasi kapital yang dikeluarkan sangat masif.
Ketika mereka menjabat, ingatan tentang “sulitnya perjuangan menuju ke atas” berbaur dengan tuntutan pengembalian modal kepada para penyokong dana (bohir). Akibatnya, kebijakan yang diambil tidak lagi didasarkan pada kebijaksanaan demi kemaslahatan publik, melainkan kalkulasi transaksi politik. Korupsi tidak lagi dilihat sebagai kejahatan moral, melainkan dianggap sebagai konsekuensi logis atau “biaya operasional” untuk bertahan di dalam sistem.
3. Jebakan Sindrom “Merasa Sudah Berjasa” (Moral Licensing)
Ada sebuah fenomena psikologis bernama moral licensing, di mana seseorang merasa berhak melakukan tindakan buruk karena mereka merasa telah melakukan banyak tindakan baik sebelumnya.
Sebagian pemimpin kita merasa bahwa karena mereka telah melewati masa sulit, mengabdi puluhan tahun, atau ikut memperjuangkan perubahan di masa muda, mereka “berhak” mendapatkan imbalan lebih. Mereka merasa kontribusinya terhadap negara sudah impas jika ditukar dengan sedikit (atau banyak) penyimpangan anggaran. Pola pikir merasa paling berjasa inilah yang perlahan mengikis integritas dan akuntabilitas.
Memutus Harapan pada Romantisme Masa Lalu
Melihat fenomena ini, kita disadarkan pada satu hal penting: pengalaman melewati masa sulit di masa lalu sama sekali bukan jaminan seseorang akan menjadi pemimpin yang berintegritas di masa depan. Penderitaan masa lalu tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan; terkadang ia justru melahirkan dendam eksploitatif terhadap keadaan. Kita tidak bisa lagi memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan narasi romantis tentang betapa susahnya masa lalu mereka atau seberapa heroik rekam jejak masa mudanya.
Kebijaksanaan dan transparansi dalam mengambil kebijakan tidak lahir dari kenangan, melainkan dari sistem pengawasan yang ketat, penegakan hukum yang tanpa pandang bulu, dan pudarnya toleransi masyarakat terhadap korupsi kecil sekalipun.
Kesimpulan
Sangat menyedihkan melihat bagaimana kekuasaan bisa membutakan mata hati mereka yang dulunya tahu persis rasanya menjadi rakyat jelata yang kesusahan. Tugas kita sebagai generasi penerus adalah tidak mengulangi siklus yang sama. Kita harus sadar bahwa integritas bukanlah sesuatu yang diwarisi dari penderitaan masa lalu, melainkan pilihan sadar yang harus dijaga setiap hari, terutama saat godaan dan kesempatan berada tepat di depan mata.
Bagaimana pendapat Anda? Mengapa menurut Anda para pemimpin yang lahir dari masa sulit justru kerap melupakan visi awal mereka saat sudah duduk di kursi kekuasaan? Mari saling bertukar pikiran di kolom komentar.