Ma’had Al Jami’ah IAIN Padangsidimpuan

Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan atau biasa disebut dengan IAIN Padangsidimpuan merupakan kampus Negeri yang berada di JL.T Rizal Nurdin No.Km 4, RW.5, Sihitang, Padangsidimpuan Tenggara, Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara 22733.  Kampus yang bercorak hijau ini merupakan salah satu kampus yang memiliki daya tarik tersendiri. Iain Padangsidimpuan termasuk ke dalam salah satu kampus yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kampus-kampus lain yang ada di Padangsidimpuan yaitu menjadi unik karena memiliki asrama atau yang disebut juga dengan ma’had al jamiah atau dalam bahasa Indonesia yaitu pesantren kampus. Dimana, pesantren kampus ini dijadikan sebagai jembatan pendidikan spiritual ataupun keagamaan oleh mahasantri dan mahasantria semester 1 dan 2, juga sebagai sarana penguatan bahasa asing seperti, bahasa inggris dan bahasa arab.            

Mahasiswa-mahasiswi IAIN Padangsidimpun diwajibkan mengikuti ma’had al jamiah selama 2 semester penuh atau selama 1 tahun penuh. Dan selama 2 semester tersebut diwajibkan menguasai bahasa arab dan inggris. Mahasiswa-Mahasiswi atau yang disebut Mahasantri dan Mahasantria Ma’had Aljamiah IAIN Padangsidimpuan di huni oleh orang-orang dari berbagai provinsi dan daerah seperti ada yang berasal dari Provinsi Riau, Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Provinsi Sumatera Selatan yaitu lebih tepatnya Kota Palembang dan daerah seperti Jakarta, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu, Mandailing Natal, Sibolga dan Padangsidimpuan ini sendiri. Mahasantri dan mahasantria yang datang dari berbagai daerah tersebut nantinya akan dibuat bercampur di satu kamar yang mana dalam satu kamar itu ada yang berjumlah dua puluh orang, delapan orang, enam orang, empat orang dan hingga paling sedikit dua orang per kamar. Selaku mahasantri dan mahasantria selama berasrama itu dikenakan biaya sebesar Rp. 500.000.00 per bulan yaitu untuk uang makan. Kehidupan di asrama diserahkan sepenuhnya kepada Musrif/Musrifah untuk di tingkat kamar dan Ustad/Ustadzah di tingkat Asramanya selaku pembimbing dan pendidik mahasantri dan mahasantria selama berasrama. Kehidupan di asrama terbilang yang padat akan kegiatan terhitung mulai dari bangun pagi di subuh hari. Aktivitas pertama mahasantri dan mahasantria di pagi hari ialah sholat subuh berjamaah lalu belajar pagi dengan Musrif/Musrifahnya di kamar. Tidak cukup hanya sampai disitu, setelah selesai belajar Mufrodat bersama musrif/musrifahnya di kamar yang memakan waktu lebih kurang satu jam maka mahasantri dan mahasantria kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu mandi dan setelah mandi langsung bergegas menuju dapur umum untuk mengambil sarapan pagi. Aktivitas selanjutnya setelah sarapan pagi, mahasantri dan mahasantria adalah belajar bersama Ustadzahnya yang juga memakan waktu lebih kurang satu jam. Inilah aktivitas pagi mahasantri dan mahasantria di asrama selama berasrama.

Mahasantri–mahasantria menyebut ma’had al jamiah sebagian penjara suci. Berdasarkan pengalaman penulis, mahasantri ataupun mahasantria selalu dalam pengawasan, tidak dapat bergerak bebas seperti kehidupan di luar asrama. Mahasantri dan Mahasantria di Ma’had Al Jamiah tidak bisa dikujungi keluarga dengan sesukanya atau denga kata lain bahwa Mahasantri dan Mahasantria itu hanya boleh dikunjungi atau menerima tamu disaat hari libur saja yaitu pada hari Minggu, itu karena supaya mahasantri dan mahasantria bisa lebih fokus dalam belajarnya selama berasrama. Pesantren kampus mendidik mahasantri-mahasantria tidak hanya kompetensi akademis saja, tapi juga skill-skill lainnya dalam bidang agama dan bahasa. Mahasiswa yang sedang mengikuti program ma’had harus siap sedia untuk segala peraturan yang ada. Dalam program ma’had, mahasiswa dilarang membawa android, dilarang pulang ke rumah dengan sesuka hati, dan mengikuti segala program yang yang ada seperti, belajar subuh, hafalan surah dan masih banyak lainnya.

Di Ma’had Al Jamiah IAIN Padangsidimpuan sebagai mahasantri dan mahasantria sangatlah banyak hal-hal yang berkesan. Satu tahun berasrama tentu banyak sekali pengalaman-pengalaman baru yang tentunya belum pernah dirasakan di masa Sekolah Menengah Akhir. Salah satu yang berkesan semasa asrama adalah iqobah atau punishmen atau hukuman yang diberikan kepada mahasantri dan mahasantria apabila kedapatan berbahasa Indonesia maupun bahasa daerah karena semasa tiga bulan masa berasrama sudah berlaku salah satu program Ma’had Al Jamiah yaitu program berbahasa yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris. Maka ketika mahasantri dan mahasantria berbahasa Indonesia dan bahasa daerah akan di beri hukuman. Hukumannya adalah memakai jilbab dengan dipadukan dua warna dan berjilbab kain sarung selam satu Minggu bagi mahasantria dan memakai kain sarung sebagai pengganti celana bagi mahasantri. Dari hukuman demi hukuman yang dilalui di asrama ataupun selama menjadi mahasantri dan mahasantria itu adalah bagian dari proses pendewasaan dan pengalaman hidup yang akan dibagikan kepada generasi masing-masing untuk kedepannya dan untuk menjadi yang lebih baik.

Penulis: Widia Ningsih dan M. Siregar

Tinggalkan komentar